“I don’t know why nobody told you how to unfold your love..” Vaya sedang mendengarkan lagu classic The Beatles kesukaannya saat kedua matanya sadar bahwa yang ia lihat adalah sawah dan gunung. Betul, Vaya pulang kampung. Hello, Indonesia!! Ia ingat betul, tidak pernah lupa sedikitpun tentang apa saja yang pernah ia lakukan di jalanan ini, pohon mangga siapa saja yang telah ia panjat dan bahkan dengan siapa saja ia pergi bermain tanah! Ha! Kenangan.Beberapa orang menganggapnya seperti buih, seperti uap.. Namun tidak untuk Vaya. Kenangan itu ada. Vaya kecil tetap hidup didalam dirinya, bersama teman-temannya. Vaya akan berada di kampung halamannya ini selama kurang lebih dua minggu, setelah resign dari kantor lamanya ia memutuskan untuk mengunjungi kakek-nenek dan kerabat-kerabatnya disini, tempat masa kecilnya. Hatinya hangat, sehangat air yang kini membasahi pipinya. Ia bahagia sampai menangis. How money can’t always buy you happiness. Pikirannya menerawang seraya ia menelanjangi pemandangan yang ada dihadapannya itu. Badannya disini, pikiran dan hatinya juga disini, namun ke tujuh tahun yang lalu… *** “Pokoknya Vaya lebih suka lukisan kan? Ya kan?.. He he..” “Enggaklah, si Vaya mah senengnya kan dipotret ya Vay?lebih jelas,dan yang paling penting lebih nyata..” Itu Utara dan Barata, seperti biasa “bertengkar” di depan Vaya. Biasanya “pertengkaran” itu tidak dimenangkan siapa-siapa. Karena keduanya, memang memiliki seluruh hati Vaya, sahabat tersayang, sahabat senja. Berteman sejak kecil, Utara senang melukis, alam sahabatnya. Barata senang fotografi, keindahan yang ia puja. Vaya adalah penyeimbang sahabat-sahabatnya itu, Vaya sama sekali tidak memiliki hobi yang berkaitan dengan seni atau fotografi, Vaya menyenangi dunia jurnalistik. Tetapi ketiganya sama-sama menyukai kopi. Itu kesamaannya. Tetapi persamaan ini bukanlah masalah dibandingkan dengan persamaan yang ini: Utara dan Barata sama-sama mencintai Vaya. Mungkin sudah biasa.Persahabatan yang melibatkan perasaan dan berakhir dengan pernikahan tidak jarang terjadi. Yang jarang terjadi adalah jika.. Vaya mencintai keduanya!Awalnya ia pikir hanya mencintai Barata, yang lugas, cermat, tau banyak hal dan mengagumkan. Tetapi kenyataannya lain, ia selalu merindukan Utara bila ia tak ada, bahkan bila Utara punya pacar, Vaya merasa seperti barangnya dicuri, seperti kemalingan benda berharga. “Serakah ya..”Itu komentar Nina, teman Vaya saat Vaya bercerita tentang Utara dan Barata.“Kamu nggak boleh minum dari dua gelas..”“Hati kamu memang luas, tapi bukan untuk dibagi-bagi sembarangan..”Kata teman-temannya yang lain..Ibarat masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tak ada saran yang Vaya indahkan..ini soal perasaan. Bukan Vaya yang mengendalikan..“Ini bukan soal Tara atau Bara kan, mungkin aja meski sahabatku bukan mereka tapi aku tetep sayang, jatuh cinta..”“Ya tapi kamu kendalikan dong, kamu kendalikan. Ini kok suka sama dua-duanya..”“Ya, maybe I can have them, maybe I can’t have them at once, or maybe.. I can’t have them at all forever! Simple!” *** Tak ada yang bisa menebak apa yang ada di pikiran Vaya saat bibir cerewetnya melontarkan statement berani seperti itu bahkan itu adalah kata-kata yang paling Vaya harap tak pernah ia ucapkan..
Tapi memang bukan salah Vaya..baik perasaan maupun kejadian yang menimpa mereka, sama sekali bukan salah Vaya.
***
“Vayaaaaaaaaa..Vayaaaaaa..”
Seorang pria yang sebaya dengan Vaya lari mengejarnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia mencarinya dari tadi. Ia paling tidak tahan kalau Vaya sudah seperti ini. Tadipun ia tiba-tiba berhenti dan turun dari mobil padahal daerah tujuan sudah dekat, kampung halaman Vaya. Namun mata Vaya menerawang terus..
“Vaaayy..berhenti, mau kemana kamu!!”
Teriakan itu!
Vaya seperti tersadar dari lamunan lintas waktunya itu. Sadar, Vaya. Sebagian dirinya mengingatkan!
Ia menghapus air matanya dan bangkit dari tempatnya.
“Aku gak kemana-mana kamu gak usah teriak kaya gini dong..” Ujar Vaya pada pria tersebut.
“Tadi aku kaget aja, ini udah mau maghrib, td kita bilang nenek kamu kalo kita bisa sampai sebelum maghrib, tapi sekarang kita masih disini..”
“Ya udah maaf tadi aku lari ke tempat ini..ayo ke mobil ayo..”
“Oke..”
Vaya melenggang duluan, meninggalkan pria ini dibelakangnya, sebelum menyusul Vaya ia menoleh ke tempat yang membuat Vaya pergi meninggalkannya tadi..
Matanya memicing kepada dua nisan..
“Makam rupanya, makam keluarga kayanya, abisan cuma dikit yang dikubur disini..”
Ia mendekati nisan yang Vaya tangisi tadi..
“Sopo iki jenenge.. Oh.. Rd.Utara Sasmita, satu lagi… Yudha Batara Samijaya..”
“Biru! Kamu ngapain?” Vaya menghampiri pacarnya itu!
“Gak Vay.. Anu.. Makam siapa itu?”
Vaya menghela nafas..
“Makam sahabat-sahabat aku, Bi..I haven’t told you yet about them..mereka meninggal pas kecelakaan pesawat, sudah sekitar tiga tahun yang lalu..”
“Oh..aku turut berduka..”
Biru menggamit Vaya sambil tersenyum..
“Mungkin kalau mereka masih ada, aku dan mereka bisa jadi sahabat juga ya..” Lanjut Biru..
Tidak. Jika tambah kamu, masalahku akan tambah satu!
“Ah iya dong, pasti..apalagi kamu sama kaya mereka, suka sama hal-hal yang berbau seni dan fotografi..”
Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah kakek-nenek Vaya. Melanjutkan hidup. Vaya pun begitu..sesekali ia menoleh ke arah dua nisan yang ia rasa menjelma sosok Tara dan Bara..namun pandangan ia fokuskan ke depan..
Seperti hidupnya, kadang ada saatnya ia menoleh ke belakang, melihat apa yang pernah hidup di masa itu, namun apapun itu, kita tak akan bisa mengambil semua yang tertinggal di masa lalu.
Biru mengemudikan mobilnya ke arah utara..melewati “Rumah Foto Barata” yang pemiliknya sudah tak ada lagi.
Sekali lagi Vaya menghela nafas..kali ini untuk keikhlasan.
****
-6.912430
107.606903