Going Green: Eco – Friendly School

Erna Febriyanti Angdam Dewi

English Conversation Teacher – SMP BPI I BANDUNG

 

We love this world, don’t we? We were born, growing up and growing old here but our Mother Nature is going dirtier and need our help to clean it up. So, going green is the right thing to do. We can start from the small things every day, every time and everywhere.

As time goes by we grow older and we have our kids to continue the life. As for teacher, we have our students. Who would want to send their kid to an unhealthy school?

Green Curriculum

What exactly makes a school green? Words like “green” and “sustainable” refer to the things that we do to reduce our carbon footprint, or the amount of carbon dioxide emissions we produce. Generally speaking, a green school is the one that tries to be as kind to the environment as possible. For example, a school has eco – friendly lessons to its curriculum that can raise the student’s awareness and empathy to their environment. Every teacher can make themes that are related to environment or how to be green in their subjects. Because teaching students about environment is not only a Biology science’s duty but also all of us as the part of this loving Mother Nature.

Inviting students to make some paintings about nature helps they appreciate the environment. They see beauty of nature and they don’t want to lose it so that the sense of belonging of the earth comes out eventually from them. Asking students to make poems about nature and environment in Literature and Language Studies makes them see and feel more.

Curriculum is the key. If the teachers can teach students about sustainability that is the highest price the earth possibly hope for. Making school a friendly place, it is teamwork from the builders to the teaching staff to instill in students a sense of wonder as well as one of responsibility for their natural environment. To raise student’s awareness, it takes engagement.

3R Awareness

Every big thing begins with a simple step. For instance, we might ask our students before they throw the garbage: “Which one is reusable? What are the recyclable materials?” so that they will consider it and separate the garbage into two kinds. Later, they can make much stuff from them: Tissue box, handy crafts, pencil case, even the girls can make accessories from straws.

Set up a recycle bins and count how much rubbish the students created in a day. By sorting trash they will automatically understand how much trash they made every day, and where it is all coming from. Challenge the students to make stuff as many and creative as they can.

Antara Kita dan Sampah

“Sudahkah kita memanfaatkan sampah – sampah disekitar kita?”

Akan ada banyak jawaban dan sanggahan terhadap pertanyaan diatas tersebut karena sebagian besar masyarakat telah menjadi bagian dari “generasi sekali pakai”, sekali pakai lalu barang tersebut langsung dibuang tanpa menyadari manfaat yang dimiliki “sampah” tersebut.
Imajinasi, kreatifitas ditambah kesadaran akan 3R: Reduce, Reuse, Recycle akan menghasilkan sampah – sampah tersebut berguna kembali. Kaleng bekas minuman ringan yang dihias dan sedikit dirubah dapat dijadikan tempat pinsil yang unik, kotak bekas sepatu juga dapat dijadikan tempat tissue yang menarik. Kertas bekas yang sudah tidak digunakan dapat dirubah menjadi buku memo, Koran dan majalah yang sudah tidak dibaca dapat digunakan kembali sebagai sampul buku yang cantik.
Banyak hal yang tidak kita sadari kegunaannya setelah kita pakai. Mulai sekarang sebelum kita membuang botol minuman atau kotak makanan kita alangkah baiknya membayangkan barang – barang baru yang dapat diciptakan dari hal tersebut. Satu langkah untuk berbagai manfaat dan yang paling penting adalah, kita memiliki andil dalam proses menjaga lingkungan dan mengurangi pencemaran di bumi.

Demi Bumi

Erna F. Angdam Dewi, S.S

Guru English Conversation SMP BPI I BANDUNG

Dunia semakin merenta seiring berjalannya waktu dan kita manusia tidak mungkin hanya berdiam saja menyaksikan bumi yang kita cintai semakin tercemar dikarenakan polusi dimana – mana. Namun sayangnya, semakin banyak polusi semakin sedikit rasa empati dan memiliki terhadap bumi. Sampah tidak disimpan di tempat yang seharusnya, listrik menyala dua puluh empat jam, lupa mematikan keran air setelah mencuci tangan bahkan meggunakan bahan – bahan yang tidak ramah lingkungan seperti plastic dan Styrofoam adalah kebiasaan sehari – hari yang tanpa disadari menimbulkan dampak yang besar bagi pencemaran lingkungan dan pemanasan global.

Pemanasan global dan Go Green menjadi trend di kalangan anak muda, namun adakah hal nyata yang telah dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap semesta yang kita huni dari suara pertama kita?

Sudahkah kita menyimpan sampah pada tempatnya?

Sudahkah kita menggunakan kembali barang yang masih layak pakai?

Sudahkah kita disiplin dalam memakai listrik dan menghemat air?

Sudahkah kita melawan lupa untuk melakukan hal – hal tersebut?

“Sense of belonging” adalah hal yang dibutuhkan manusia untuk menyayangi dan menjaga lingkungan, dengan rasa saling memiliki terhadap bumi secara otomatis menimbulkan keinginan untuk selalu membuatnya bersih dan lestari. Tidak perlu hal besar untuk melakukan perubahan karena sejatinya perubahan dimulai dari hal kecil secara bersamaan.

Bersama – sama kita menjaga lingkungan dengan lebih disiplin dalam menggunakan listrik dan air, menyimpan sampah pada tempatnya, membawa tempat bekal sendiri sebagai pengganti bungkus plastic atau Styrofoam. Lakukan hal – hal tersebut setiap hari maka dengan sendirinya diri kita akan terbiasa.

Demi keberlangsungan bumi dan masa depan semesta, apapun seyogyanya kita lakukan. Mari jaga semesta kita bersama – sama. Let’s Go Green.

 

 

The Road Not Taken.. By: Robert Frost (1874–1963)

TWO roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair

And having perhaps the better claim

Because it was grassy and wanted wear

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same

And both that morning equally lay In leaves

No step had trodden black

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence: Two roads diverged in a wood,

And I – I took the one less traveled by

And that has made all the difference.

Bubbles..

“I don’t know why nobody told you how to unfold your love..” Vaya sedang mendengarkan lagu classic The Beatles kesukaannya saat kedua matanya sadar bahwa yang ia lihat adalah sawah dan gunung. Betul, Vaya pulang kampung. Hello, Indonesia!! Ia ingat betul, tidak pernah lupa sedikitpun tentang apa saja yang pernah ia lakukan di jalanan ini, pohon mangga siapa saja yang telah ia panjat dan bahkan dengan siapa saja ia pergi bermain tanah! Ha! Kenangan.Beberapa orang menganggapnya seperti buih, seperti uap.. Namun tidak untuk Vaya. Kenangan itu ada. Vaya kecil tetap hidup didalam dirinya, bersama teman-temannya. Vaya akan berada di kampung halamannya ini selama kurang lebih dua minggu, setelah resign dari kantor lamanya ia memutuskan untuk mengunjungi kakek-nenek dan kerabat-kerabatnya disini, tempat masa kecilnya. Hatinya hangat, sehangat air yang kini membasahi pipinya. Ia bahagia sampai menangis. How money can’t always buy you happiness. Pikirannya menerawang seraya ia menelanjangi pemandangan yang ada dihadapannya itu. Badannya disini, pikiran dan hatinya juga disini, namun ke tujuh tahun yang lalu… *** “Pokoknya Vaya lebih suka lukisan kan? Ya kan?.. He he..” “Enggaklah, si Vaya mah senengnya kan dipotret ya Vay?lebih jelas,dan yang paling penting lebih nyata..” Itu Utara dan Barata, seperti biasa “bertengkar” di depan Vaya. Biasanya “pertengkaran” itu tidak dimenangkan siapa-siapa. Karena keduanya, memang memiliki seluruh hati Vaya, sahabat tersayang, sahabat senja. Berteman sejak kecil, Utara senang melukis, alam sahabatnya. Barata senang fotografi, keindahan yang ia puja. Vaya adalah penyeimbang sahabat-sahabatnya itu, Vaya sama sekali tidak memiliki hobi yang berkaitan dengan seni atau fotografi, Vaya menyenangi dunia jurnalistik. Tetapi ketiganya sama-sama menyukai kopi. Itu kesamaannya. Tetapi persamaan ini bukanlah masalah dibandingkan dengan persamaan yang ini: Utara dan Barata sama-sama mencintai Vaya. Mungkin sudah biasa.Persahabatan yang melibatkan perasaan dan berakhir dengan pernikahan tidak jarang terjadi. Yang jarang terjadi adalah jika.. Vaya mencintai keduanya!Awalnya ia pikir hanya mencintai Barata, yang lugas, cermat, tau banyak hal dan mengagumkan. Tetapi kenyataannya lain, ia selalu merindukan Utara bila ia tak ada, bahkan bila Utara punya pacar, Vaya merasa seperti barangnya dicuri, seperti kemalingan benda berharga. “Serakah ya..”Itu komentar Nina, teman Vaya saat Vaya bercerita tentang Utara dan Barata.“Kamu nggak boleh minum dari dua gelas..”“Hati kamu memang luas, tapi bukan untuk dibagi-bagi sembarangan..”Kata teman-temannya yang lain..Ibarat masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan, tak ada saran yang Vaya indahkan..ini soal perasaan. Bukan Vaya yang mengendalikan..“Ini bukan soal Tara atau Bara kan, mungkin aja meski sahabatku bukan mereka tapi aku tetep sayang, jatuh cinta..”“Ya tapi kamu kendalikan dong, kamu kendalikan. Ini kok suka sama dua-duanya..”“Ya, maybe I can have them, maybe I can’t have them at once, or maybe.. I can’t have them at all forever! Simple!” *** Tak ada yang bisa menebak apa yang ada di pikiran Vaya saat bibir cerewetnya melontarkan statement berani seperti itu bahkan itu adalah kata-kata yang paling Vaya harap tak pernah ia ucapkan..

Tapi memang bukan salah Vaya..baik perasaan maupun kejadian yang menimpa mereka, sama sekali bukan salah Vaya.

***

“Vayaaaaaaaaa..Vayaaaaaa..”
Seorang pria yang sebaya dengan Vaya lari mengejarnya dengan nafas yang terengah-engah. Ia mencarinya dari tadi. Ia paling tidak tahan kalau Vaya sudah seperti ini. Tadipun ia tiba-tiba berhenti dan turun dari mobil padahal daerah tujuan sudah dekat, kampung halaman Vaya. Namun mata Vaya menerawang terus..

“Vaaayy..berhenti, mau kemana kamu!!”

Teriakan itu!
Vaya seperti tersadar dari lamunan lintas waktunya itu. Sadar, Vaya. Sebagian dirinya mengingatkan!
Ia menghapus air matanya dan bangkit dari tempatnya.
“Aku gak kemana-mana kamu gak usah teriak kaya gini dong..” Ujar Vaya pada pria tersebut.
“Tadi aku kaget aja, ini udah mau maghrib, td kita bilang nenek kamu kalo kita bisa sampai sebelum maghrib, tapi sekarang kita masih disini..”
“Ya udah maaf tadi aku lari ke tempat ini..ayo ke mobil ayo..”
“Oke..”
Vaya melenggang duluan, meninggalkan pria ini dibelakangnya, sebelum menyusul Vaya ia menoleh ke tempat yang membuat Vaya pergi meninggalkannya tadi..
Matanya memicing kepada dua nisan..
“Makam rupanya, makam keluarga kayanya, abisan cuma dikit yang dikubur disini..”
Ia mendekati nisan yang Vaya tangisi tadi..
“Sopo iki jenenge.. Oh.. Rd.Utara Sasmita, satu lagi… Yudha Batara Samijaya..”

“Biru! Kamu ngapain?” Vaya menghampiri pacarnya itu!
“Gak Vay.. Anu.. Makam siapa itu?”

Vaya menghela nafas..

“Makam sahabat-sahabat aku, Bi..I haven’t told you yet about them..mereka meninggal pas kecelakaan pesawat, sudah sekitar tiga tahun yang lalu..”

“Oh..aku turut berduka..”
Biru menggamit Vaya sambil tersenyum..
“Mungkin kalau mereka masih ada, aku dan mereka bisa jadi sahabat juga ya..” Lanjut Biru..

Tidak. Jika tambah kamu, masalahku akan tambah satu!

“Ah iya dong, pasti..apalagi kamu sama kaya mereka, suka sama hal-hal yang berbau seni dan fotografi..”

Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah kakek-nenek Vaya. Melanjutkan hidup. Vaya pun begitu..sesekali ia menoleh ke arah dua nisan yang ia rasa menjelma sosok Tara dan Bara..namun pandangan ia fokuskan ke depan..

Seperti hidupnya, kadang ada saatnya ia menoleh ke belakang, melihat apa yang pernah hidup di masa itu, namun apapun itu, kita tak akan bisa mengambil semua yang tertinggal di masa lalu.

Biru mengemudikan mobilnya ke arah utara..melewati “Rumah Foto Barata” yang pemiliknya sudah tak ada lagi.

Sekali lagi Vaya menghela nafas..kali ini untuk keikhlasan.

****

“ABU”

Terbuat dari apakah dirimu?
Memandangmu tak juga mengenyangkanku.
Mengeyahkanmu adalah sama dengan mengurangi kadarku..
Kau ganjil yang menggenapkanku.

KirimanNya kah engkau?
Aku dan dirimu mutlak sama dengan KITA..
Matamu seluas semesta.Tak ada lagi ia, dirinya, dan mereka..

Dirimu selalu ada diantara Aku.
Karena kita satu.
Meskipun engkau kini telah mengabu..

Sepasi..

Sembarangan menaruh hati, pada suatu pagi kutemukan hatiku remuk dilahap mimpi..

Kulihat lagi bentuk hatiku itu, HA! Ternyata tinggal sepasi..
Bila kau yang baik hati, menemukan serpihan hatiku yang lain yang berceceran disuatu tempat yang kunamai hatimu – tolong bawa sisanya padaku!